KEKUASAAN DAN IMARAH DI KALANGAN BANGSA ARAB
Para penguasa di jazirah Arab tatkala terbitnya matahari islam, dibagi
menjadi :
1. Raja-raja yang
mempunyai mahkota, tapi pada hakikatnya mereka tidak bisa
merdeka berdiri sendiri.
2. Para pemimpin kabilah
/suku yang memiliki kekuasaan dan hak-hak istimewa kekuasaan para raja.
Raja-raja Yaman
1. Pada abad-abad
sebelum 650 SM, raja-raja mereka bergelar Makrib Saba, dengan
ibu kotanya Sharawah.
2. sejak tahun 650
SM-110 SM, mereka menanggalkan gelar Makrib dan hanya memakai gelar Saba,
dengan ibu kota Ma’arib.
3. Sejak tahun 115
SM-300 SM, kabilah Khimyar mengalahkan Saba dan menjadikan Raidan sebagai
ibukotanya. Kemudian menjadi Dhafar.
4. Sejak thn 300 M
sampai masuknya islam ke Yaman, diwarnai kekacauan.Atas bantuan
Romawi orang habasyah bias merebut Yaman awal th.340 M.
Raja-raja di
Hirah
Bangsa Persi bisa menguasai Iraq setelah cyrus yang Agung (557-529
SM) dapat mempersatukannya hingga tak seorangpun berani menyerangnya. Kekuatan
mereka kembali bangkit pada era Ardasyir pendiri kerajaan sasaniyah sejak thn
226 M.
Pada era ardasyir ini Judzaimah Al-wadhdhah berkuasa atas Hairah dan
sebagian penduduk Iraq serta daerahnya Rabi’ah dan Mudhar.
Pada th.268 Judzaimah Al-wadhdhah meninggal dunia, lalu Amru bin Ady
bin Nshr Al-Lakhmy naik tahta di Hirah.
Pada masa
kekuasaan Qubadz bin Fairuz di Parsi, yang berkuasa di hirah adalah Mazdak.
Mazdak kembali diganti oleh Al-Mundzir karena ajaran permisivismenya
yang tidak disukai raja Persia. Pada masa kekuasaan An-Nu’man bin
Al-Mundzir emas banyak disimpanya, sehingga memancing kemarahan raja Persia, ia
diganti Iyas bin Qubaishah Ath-Tha’y, lalu dikalhkan bangsa arab suku
Syaibah.Setelah itu Kisra mengangkat penguasa Hirah dari bangsa Persi hingga
dating Khalid bin walid beserta pasukan muslim.
Raja-raja di
Syam
Bangsa romawi
mengangkat seorang raja dari suku Dhaja’amah, yang berlangsung hingga beberapa
tahun. Raja mereka yang terkenal adalah Ziyad Bin habulah,berakhir setelah
kedatangan Ghassan. Bangsa romawi mengangkat mereka menjadi raja bagi semua
bangsa arab di syam.
Imarah di
Hijaz
Hijaz adalh sekitar makkah, yang pertamakali dikuasai oleh
Ismail beserta keturunannya selama 20 abad SM, kemudian bani Jurhum selama
21 abad.Pada masa kedua terjadi pengurusan kota makahbesera
asset-asetnya terutama ka’bah dan sumur zam-zam yang menjdi kekuatan ekonomi
mereka.
Penangann selanjutnya oleh bangsa Quraisy yang diantara mereka saling
berebut kebutuhan terhadap pngelolaan haji dan asset-aset yang ada di Makkah.
Kekuasaan di
berbagai penjuru Arab
Kekuasaan dipegeang oleh para kabilah-kabilah dengan pemimpinya yang
mempunyai hak otoriter penuh terhdap segala sesuatu didantara mereka.Kabilah
adalah sebuauh pemerintahan kecil yang azas eksistensi politiknya berdsarkan
fanatisme.
Kondisi
Politik
Tiga wilayah yang letaknya
berdampingan dengan negeri asing, kondisinya sangat lemah dan tidak pernah
berubah positif. Mereka dikelompokkan kepada golongan tuan-tuan atau para
budak, para penguasa atau rakyat. Para tuan-tuan, terutama bila mereka orang asing,
memiliki seluruh kambing sedangkan para budak, sebaliknya yaitu mereka semua
wajib membayar upeti. Dengan ungkapan lain yang lebih jelas, bahwa rakyat
ibarat posisi sebuah sawah yang selalu mendatangkan hasil buat dipersembahkan
kepada pemerintah yang memanfaatkannya sebagai sarana untuk bersenang-senang,
melampiaskan hawa nafsu, keinginan-keinginan, kelaliman dan upaya memusuhi
orang. Sementara rakyat itu sendiri tenggelam dalam kebutaan, hidup tidak
menentu, dan saat kelaliman menimpa mereka, tak seorangpun diantara mereka yang
mampu mengadu, bahkan mereka diam tak bergerak dalam menghadapi kelaliman dan
beraneka macam siksaan . Hukum kala itu benar-benar bertangan besi, sedangkan
hak-hak asasi hilang ternoda. Adapun kabilah-kabilah yang berdampingan dengan
kawasan ini, mengambil posisi ragu dan oleng oleh hawa nafsu dan tujuan pribadi
masing-masing ; terkadang mereka terdaftar sebagai penduduk Iraq tapi terkadang
juga terdaftar sebagai penduduk Syam. Kondisi kabilah-kabilah dalam Jazirah
Arab tersebut benar-benar berantakan dan tercerai berai, masing-masing lebih
memilih untuk berselisih dalam masalah suku, ras dan agama. Sedangkan pemerintahan Hijaz sebaliknya, mata seluruh
orang-orang Arab tertuju kepadanya dan mendapatkan penghargaan dan penghormatan
dari mereka. Mereka menganggapnya sebagai pemimpin dan pelaksana keagamaan.
Realitasnya, memang pemerintahan tersebut merupakan akumulasi antara
kepemimpinan keduniawiaan, pemerintahan dalam arti yang sebenarnya dan
kepemimpinan keagamaan.
Ketika mengadili
persengketaan yang terjadi antar orang-orang Arab, pemerintahan tersebut
bertindak mewakili kepemimpinan keagamaan dan ketika mengelola urusan masjid
Haram dan hal-hal yang berkaitan dengannya, maka ia lakukan sebagai pemerintah
yang mengurusi kemashlahatan orang-orang yang berkunjung ke Baitullah/Ka’bah,
begitu juga ia masih menjalankan syari’at Nabi Ibrahim. Pemerintahannya juga,
sebagaimana kami singgung sebelumnya, memiliki instansi-instansi dan
bentuk-bentuk yang menyerupai sistim parlemen, namun pemerintahan ini sangat
lemah sehingga tak mampu memikul tanggungjawabnya sebagaimana saat mereka
menyerang orang-orang Habasyah dulu.
Kafhaya Nuzulanisa (53020190121

